cool hit counter

Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting - Persyarikatan Muhammadiyah

Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting
.: Home > Artikel > Lembaga

Homepage

Peran PTM dalam Pemberdayaan Cabang dan Ranting Muhammadiyah

.: Home > Artikel > Lembaga
23 Oktober 2012 08:47 WIB
Dibaca: 1398
Penulis : Drs. Zamah Sari, M.Ag.

Keberhasilan Muhammadiyah melewati se-abad perjuangannya di Indonesia paling tidak ditandai dengan prestasi dan konstribusinya dalam tiga hal. Pertama, prestasi dan konstribusinya dalam tiga hal. Pertama, keberhasilan Muhammadiyah dalam mewarnai paham Islam modrn dan berkemajuan di Indonesia. Kedua, kemampuannya dalam mengembangkan jaringan organisasi modern yang meliputi seluruh wilayah Indonesia. Ketiga, amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi dengan jumlah terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Uniknya ketiga keberhasilan ini, jika dirunut, dan ini yang mencengangkan dunia, bukan karena Muhammadiyah memilki modal material yang besar (seperti yang dimiliki negara atau corporate multinasional), tetapi lebih karena modal sosial yang bersumber dari energi dan geliat jamaah Muhammadiyah di level akar rumput. Jika dibuat rumus sederhana, keberhasilan Muhammadiyah dalam perjalanan abad pertamanya, baik secara kultural maupun struktural, dikarenakan Muhammadiyah dibangun dan dikembangkan dari rahim jamaah yang digerakkan melalui Cabang dan Ranting. Diseminasi paham Islam modern dan berkemajuan menjadi efektif karena pertumbuhan Cabang dan Ranting yang sangat cepat sejak awal abad pertama Muhammadiyah. Pada tahun 1932, telah terdapat 283 Cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia, berkembang pesat menjadi 921 Cabang dan Ranting Muhammadiyah pada tahun 1937, dua data terakhir, menurut buku profil se-Abad Muhammadiyah, pada tahun 2010 terdapat 8.107 PRM dan 3.221 PCM. Sedangkan amal usaha Muhammadiyah merupakan anak kandung jaringan yang tumbuh dari Ranting dan Cabang terus ke atas secara struktural. Tidak ada amal usaha yang lahir tanpa inisiasi jaringan organisasi Muhammadiyah.

 

Namun, jika melihat pada awal abad kedua Muhammadiyah saat ini, kelihatan ada gejala yang terbalik. Amal usaha terus berkembang dengan baik, bahkan banyak di antaranya mulai dan telah menggapai standar internasional, tetapi Cabang dan Ranting sebagai ujung tombak gerakan Muhammadiyah justru mulai tercecer, ketinggalan, dan kehilangan elan vital. Bahkan di beberapa tempat, warga Muhammadiyah lebih serius mengelola amal usaha, tetapi tidak ambil peduli dengan Cabang dan Ranting. Terjadi pergeseran dalam dinamika kehidupan Muhammadiyah, yang semula base on community (berbasis komunitas melalui Cabang dan Ranting) menjadi base on amal usaha (berbasis amal usaha). Untuk sebagian alasan, pergeseran ini dapat dipahami sebagai cara Muhammadiyah dalam meresponi perubahan dan semangat zaman. Namun, jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, akan membuat Muhammadiyah kehilangan pada dua wajahnya, baik pada jaringan organisasi maupun pada amal usahanya.

 

Terkait denganpersoalan dan isu sentral Muhmmadiyah saat ini, yaitu merevitalisasi Cabang dan Ranting, PTM memiliki tanggungjawab strategis dan peranan penting. Sekian banyak resource yang dimilki oleh PTM, baik itu SDM, sarana-prasarana, sistem, riset, pendidikan dan pengajaran, pengabdian masyarakat dapat diorientasikan dan disinergikan untuk pemberdayaan Cabang dan Ranting. Paling tidak, ada 3 peran strategis yang dapat dilakukan oleh PTM dalam rangka revitalisasi Cabang dan Ranting Muhammadiyah. Pertama, riset untuk pengembangan Cabang dan Ranting. Kedua, penguatan program-program Cabang dan Ranting. Ketiga, penguatan SDM Cabang dan Ranting.

 

Riset untuk Pengembangan Cabang dan Ranting

 

Modal spirit yang selama ini telah menjadi kekuatan Muhammadiyah, ke depan harus diimbangi dengan pendekar-pendekar yang berbasis data. Dengan semnagat jihad yan luar biasa, Muhamadiyah telah berkembang menjadi The Lergest Islamic Organisation di Indonesia. Namun dalam tahapan ke depan, melihat pada persaingan dan tantangan era globalisasi, Muhammadiyah sudah harus mulai merancang masa depannya dengan basis data yang kuat. Sehingga planning dan strategi revitalisasi yang dicanangkan tidak hanya sesuai dengan problem yang dihadapi secara internal tetapi juga merupakan siasat cerdas dalam menyikapi chalenge yang dihadapi. Pendekatan ini akan memudahkan Muhammadiyah untuk membuat peta jalan (road map) abad kedua.

 

Pada sisi ini, Perguruan Tinggi Muhammadiyah memiliki tanggungjawab dan peran penting. Setiap PTM memiliki lembaga penelitian, dengan SDM yang terlatih, program yang jelas dan anggaran yang telah dialokasi setiap tahun. Jika selama ini riset PTM lebih banyak diarahkan pada pengembangan keilmuan secara umum, maka ke depan, PTM perlu mengorientasikan dan mensinergikan sumber daya riset yang dimiliki untuk pemberdayaan Cabang dan Ranting. Cabang dan Ranting dengan jamaah yang ada di dalamnya merupakan laboratorium sosial yang sangat kaya bagi berbagai masalah riset.

 

Kerja besar dan strategis yang sedang diusung oleh LPCR saat ini, Survey Pemetaan Cabang dan Ranting se-Indonesia nampaknya sukar dikerjakan tanpa keterlibatan dan tanggungjawab PTM. Dengan dukungan risetnya, PTM dapat memberi dan menunjukkan peta jalan bagi Muhammadiyah. Tidak ada jalan lain bagi Cabang dan Ranting kecuali merancang msa depannya dengan berbasis data. Melalui riset, Cabang dan Ranting dapat melihat secara obyektif persoalan apa yang sedang dihadapi, tantangan apa yang datang dari luar dan prediksi masa depan seperti apa yang akan dihadapi. Dengan cara ini, PTM akan memberdayakan Cabang dan Ranting dalam merambah jalan baru bagi masa depannya di abad kedua perjuangan Muhammadiyah.

 

Penguatan Program Cabang dan Ranting

Salah satu masalah yang dihadapi oleh Cabang dan Ranting adalah kurangnya frekwensi, variasi dan daya tarik program-program Cabang dan Ranting. Kondisi inlah yangmembuat sebagian keluarga besar Muhammadiyah menoleh dan melirik pada “yang lain”. Salah satu langkah strategis dan menjadi pilar pengembangan Cabang dan Ranting adalah dengan menginisiasi program-program yang menarik, sesuai kebutuhan jamaah, lebih variatif dan berdimensi pemberdayaan.

 

Selama ini, PTM telah mendukung berbagai kegitan Cabang dan Ranting. Hanya saja lebih banyak sebatas dukungan finansial, yang terkadang bukannya memberdayakan tetapi lebih membuat hubungan ketergantungan. Ke depan, sinergi PTM dengan Cabang dan Ranting akan lebih strategis dan bermakna pemberdayaan jika dilakukan secara programatis. Artinya, program-program PTM harus disinergikan dengan program-program pemberdayaan Cabang dan Ranting. Ada forum bersama setiap tahun yang memungkinkan sinergi PTM dengan program pemberdayaan Cabang dan Ranting. Pendekatan ini akan memberi nilai tambah bagi kedua belah pihak. Bagi PTM, kerjasama ini akan memudahkan implementasi program-program pengabdian masyarakat, kegiatan Program Kuliah Lapangan dan mata Kuliah ke-Muhammadiyah yang selalu terkait dengan pengembangan masyarakat. Rintisan yang dilakukan oleh UM Purwokerto dan Genius Local Partnership (GLP) dan UHAMKA dengan pemberdayaan keluarga dhuafanya, dapat menjadi inspirasi bagi PTM lainnya. Sedangkan, bagi Cabang dan Ranting, sinergi ini akan sangat membantu untuk keluar dari keterbatasan resources yang dimiliki. Sinergi ini akan membangun sebuah jembatan yangkuat antara kampus dan masyarakat.

 

Penguatan Sumber Daya Manusia (SDM)

 

Masalah akut lainnya yang dihadapi oleh Cabang dan Raning adalah kelangkaan SDM, tidak hanya jumlah tetapi juga kwalitas SDM.

 

Disisi lainnya, perkembangan amal usaha seperti PTM mampu menjadi daya magnetis yang kuat bagi berhimpunnya SDM yang handal. Dilihat dari segi jumlah mahasiswa, pada 6 (enam) PTM terbesar misalnya, UM Malang, UM Surakarta dan UM Makassar masing-masing memiliki lebih kurang 25 hingga 30 ribu mahasiswa, UHAMKA, UM Yogyakarta dan UAD masing-masing lebih kurang 15 ribu sampai 20 ribu mahasiswa. Ada ribuan SDM Dosen dengan pangkat akademik profesor, lektor kepala dan lektor. Ada ribuan karyawan yang bekerja dan mengabdi di seluruh PTM Indonesia. Seluruh potensi SDM ini merupakan modal strategis bagi Cabang dan Ranting.

 

Diperlukan 5 pendekatan yang harus dilakukan PTM untuk memastikan agar SDM punya tanggungjawab ideologis dalam pengembangan Cabang dan Ranting. Pertama, harus ada data base seluruh Cabang dan Ranting yang terdapat di wilayah atau daerah Muhammadiyah tempat domisili PTM. Data lain yang diperlukan adalah data seluruh SDM yang ada di kampus, data domisili mahasiswa, karyawan dan dosen. Kedua data ini kemudian dikaitkan; antarlokasi Cabang dan Ranting dengan SDM PTM berdomisili. Kedua, jika data sudah cukup, PTM harus punya program dan fasilitas yang mendorong dan mengundang (dan pada gilirannya “memaksa) SDM untuk turut aktif di Cabang dan Ranting. Ketiga, PTM perlu membekali dan menyiapkan SDM yang akan terlibat di Cabang dan Ranting. Hal ini dianggap penting, karena tidak semua SDM di PTM berlatar belakang keluarga dan aktif di Muhammadiyah. Jika tidak diberikan pembekalan dan pelatihan, bia jadi keterlibatannya membawa misi yang belum tentu sejalan dengan misi Muhammadiyah. Keempat, monitoring dan evaluasi berkesinambungan, untuk memastikan bahwa gerakan ini memang efektif dan melakukan penyempurnaan terus menerus. Kelima, gerakan ini harus terintegrasi dalam sistem managemen SDM PTM bersangkutan. Artinya, sejak rekruitmen, pengembangan karir sampai pada pesiun, gerakan ini menjadi standar dan ukuran penilaian bagi seluruh SDM yang ada di PTM. Sejak rekruitmen telah dijelaskan bahwa bekerja di PTM tidak hanya menagih tanggungjawab profesional, tetapi ada tanggungjawab idiologis dan tanggung jawab sosial untuk mengembangkan Cabang dan Ranting.

 

Akhirnya, jika dalam ART Muhammadiyah tercantum bahwa untuk pendirian Ranting dan Cabang harus memiliki amal usaha (dan inilah yang telah melahirkan ribuan amal usaha Muhammadiyah termasuk PTM), ke depan nampaknya perlu ada regulasi: “Setiap PTM harus dan bertanggungjawab memberdayakan Cabang dan Ranting yang ada di Wilayah dan Daerah Muhammadiyah secara terukur sesuai dengan kemampuan dan potensi masing-masing PTM”.

 

Zamah Sari, wakil Rektor III UHAMKA Jakarta

 

Sumber

SM no 12 th ke 97, 16-30 Juni 2012 hal 56-57


Tags: PTM , LPCR , muhammadiyah , cabang , ranting

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website