cool hit counter

Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting - Persyarikatan Muhammadiyah

Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting
.: Home > Artikel

Homepage

MENGGIATKAN GERAKAN JAMAAH DAN DAKWAH JAMAAH DI CABANG DAN RANTING

.: Home > Artikel > Pimpinan Pusat
08 November 2011 12:32 WIB
Dibaca: 3247
Penulis : Dr. Syarifuddin Jurdi, M.Si Wakil Ketua LPCR PP Muhammadiyah

Setiap gerakan sosial yang memiliki jaringan organisasi hingga ke tingkat akar rumput tentu akan memikirkan bagaimana model mengembangkan aktivitas organisasi di tingkat akar rumput sebagai basis gerakan. Industrialisasi, globalisasi dan kapitalisasi kehidupan sosial masyarakat telah membawa implikasi sosiologis bagi rapuhnya semangat gotong royong atau kohesi sosial, sementara elite-elite organisasi sosial keagamaan hanya sibuk memikirkan persoalan-persoalan besar tanpa mempedulikan basis gerakannya.

 

Antara kepedulian pada penguatan basis gerakan dengan gagasan mengenai pemberdayaan masyarakat akar rumput masih terdapat kesenjangan, artinya gagasan ideal mengenai pembentukan masyarakat ideal (al-madinah al-fadhilah model Al-Farabi) dengan tindakan konkret untuk mewujudkan yang masih terdapat ruang kosong. Muhammadiyah sebenarnya telah menggagas tentang penguatan basis gerakan ini sejak awal berdirinya, bahkan Muktamar tahun 1970-an telah memutuskan untuk menggalang gerakan jamaah dan dakwah jamaah (GJDJ). Hanya saja, gagasan itu belum maksimal diimplementasikan dalam aktivisme organisasi.

 

Kesadaran yang sama muncul pada Muktamar ke-46 Yogyakarta dengan adanya program revitalisasi cabang dan ranting serta pembentukan Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) sebagai respons atas kondisi global dan tantangan yang akan dihadapi Muhammadiyah di masa depan. Meningkatnya kesadaran sosial masyarakat yang disertai dengan sikap kritis terhadap persoalan politik, hak azasi manusia, lingkungan hidup dan demokrasi merupakan tuntutan umum yang semakin penting bagi masyarakat hingga ke akar rumput atau tingkat cabang dan ranting.

 

Orientasi kebijakan politik di level institusi negara maupun kebijakan dakwah di level organisasi gerakan sosial Islam yang bersifat sentralistik segera bergeser dengan memaksimalkan peran masyarakat atau umat di akar rumput. Kebijakan yang bersifat top-down tidak saja gagal mengadaptasikan dirinya dengan realitas kehidupan masyarakat di akar rumput, tetapi juga merusak infrastruktur sosial masyarakat itu sendiri. Karena itu, pelibatan aktif masyarakat akar rumput untuk memaksimalkan potensi lokal menjadi sesuatu yang diharapkan efektif memperkuat basis masyarakat, sekaligus memperkuat keterlibatan Muhammadiyah di tingkat basis

 

Kesadaran untuk memperhatikan masyarakat di akar rumput merupakan kelanjutan dari spirit untuk melakukan perubahan formasi sosial dengan terlibat dalam penguatan kesadaran sosial, politik, ekonomi, dan ideologi yang kini terkooptasi oleh kecendrungan kapitalistik, birokratis dan pragmatis. Program GJDJ sebagai bagian untuk mengadaptasikan gerakan Muhammadiyah di akar rumput dengan kecendrungan birokratisasi, politisasio serta kapitalisasi yang berlangsung secara massif pasca Orde Baru. Memberikan perhatian pada penguatan basis ini dalam perspektif Muhammadiyah bukanlah yang pertama dilakukan, beberapa dekade yang lalu, telah dirumuskan mengenai pembinaan jamaah, keluarga sakinah, dan qoriyyah thottibah menjadi gagasan gerakan untuk memperkuat basis.

 

Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah

Gagasan mengenai pengembangan cabang dan ranting sebenarnya telah dirumuskan pada dekade 1970-an ketika konsep GJDJ diputuskan menjadi kebijakan organisasi. Esensi GJDJ adalah penguatan kesadaran jamaah dan kepedulian mereka terhadap lingkungan sosialnya. Definisi sederhana mengenai jamaah adalah kumpulan keluarga muslim yang berada dalam satu lingkungan tempat tinggal (dusun, RW, desa) atau dalam konsep perkotaan sebagai ikatan ideologi mereka yang berada dalam komunitas yang sama, mereka disatukan dengan kesadaran yang sama dalam proses pembentukan dilakukan oleh persyarikatan Muhammadiyah.

 

Penguatan cabang dan ranting Muhammadiyah dapat dilakukan dengan maksimal apabila pembinaan jamaah dapat dilakukan secara efektif dan kontinyu, artinya pembinaan komunitas basis di akar rumput melalui GJDJ tidak menjadi perhatian yang bersifat parsial dan temporal, tetapi merupakan program organisasi yang terpadu dan terintegrasi dengan melibatkan berbagai majelis dan lembaga di lingkungan Muhammadiyah. Ajakan dakwah untuk mengajak warga aktif merupakan landasan gerakan Muhammadiyah sebagaimana tertuang dalam ayat yang menjadi referensi berdirinya Muhammadiyah yaitu surat Al-Imran ayat 104 yang intinya menuntut adanya suatu komunitas yang solid dan terorganisir untuk memperjuangkan tegaknya kebaikan dan menentang segala macam keburukan.

 

Perhatian utama gerakan jamaah dan dakwah jamaah adalah membina keluarga, jamaah, dan secara aktif melakukan advokasi terhadap berbagai persoalan yang terjadi di akar rumput atau di level jamaah. Orientasi dari gerakan ini adalah membangun basis kehidupan jamaah dengan dakwah bil hal di bidang pendidikan, sosial, ekonomi dan kesehatan – yang instrumen umumnya sudah dimiliki oleh Muhammadiyah, selain itu – tentu saja yang paling penting adalah penguatan pada pembinaan aqidah Islam, membangun keluarga sakinah, mawadah warahmah.

 

Melalui penguatan basis tersebut, gerakan jamaah perlu melakukan berbagai langkah produktif yang dapat mendorong masyarakat di tingkat basis untuk memecahkan persoalan-persoalan empirik yang mereka hadapi, termasuk usaha-usaha ekonomi produktif yang digerakkan oleh komunitas/jamaah. Kerja bersama di akar rumput akan maksimal mendorong perubahan setidaknya melakukan perubahan atas sistem sosial yang tidak mendorong produktifitas masyarakat. Melalui gerakan jamaah, proses penghimpunan berbagai potensi sosial, ekonomi dan bahkan politik akan sangat efektif untuk mendorong perubahan sosial dan penguatan masyarakat sipil.

 

Pendiri Muhammadiyah dahulu sangat peduli terhadap pembinaan jamaah seperti yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan, beliau melakukan perjalanan keliling Jawa untuk melakukan pembinaan terhadap jamaah hingga ke Banyuwangi, Jakarta dan seluruh komunitas Muhammadiyah di Jawa Tengah. Itu artinya, penguatan jamaah sudah menjadi dasar utama atau platform dari berdiri dan pengembangan gerakan Muhammadiyah. Dengan penguatan jamaah, tentu akan mudah melakukan dakwah jamaah, akhirnya lebih terarah pada pemberdayaan di bidang aqidah, ibadah, sosial kemanusiaan dan advokasi.

 

Langkah Penguatan Jama’ah

Langkah pemberdayaan melalui penguatan institusi cabang dan ranting akan memberi kontribusi bagi penguatan kohesi sosial/solidaritas antar warga di tengah meluasnya faham-faham radikal yang cenderung anarkis belakangan ini. Ledakan bom di Pesantren Umar Bin Khattab Bima NTB bisa menjadi bukti betapa rapuhnya kohesi sosial warga, suatu komunitas kecil dan pinggiran semacam Bima itu, bisa lahir suatu tindakan kekerasan. Memperkuat kembali identitas lokal melalui gerakan jamaah dapat dipandang dalam kerangka penguatan potensi dan basis gerakan untuk digerakkan kepada hal-hal yang produktif.

 

Langkah yang dapat dilakukan untuk menggiatkan cabang dan ranting Muhammadiyah melalui gerakan jamaah dan dakwah jamaah; 1). Melakukan assesment awal mengenai kehidupan keagamaan di desa atau komunitas atau ranting; 2). Memantapkan konsep dakwah jamaah yang akan dipergunakan agar sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat basis; 3). Melakukan sosialisasi dan pelatihan bagi para fasilitator yang akan menggerakkan cabang dan ranting; 5). Melakukan pendampingan dakwah jamaah; 6). Memantapkan organisasi gerakan di akar rumput (pimpinan ranting) sebagai ujung tombak gerakan dakwah jamaah.

 

Untuk mensinergikan langkah-langkah diatas, diperlukan adanya keterlibatan berbagai lembaga amal Muhammadiyah seperti sekolah, rumah sakit ataupun masjid yang tumbuh begitu cepat di berbagai daerah di Indonesia. Pelibatan lembaga amal itu dalam mempercepat proses pengembangan cabang dan ranting sebagai sentral untuk mengembangkan Muhammadiyah sebagai organisasi yang bercorak community based¸ tidak hanya memperkuat infrastruktur Muhammadiyah, tetapi juga memperkuat infrastruktur masyarakat sehingga terbentuk masyarakat khairah ummah sebagaimana cita-cita Muhammadiyah.

 

Silakan Download, Klik di Sini


Tags: LPCR , Cabang , Ranting , GerakanJamaah , DakwahJamaah

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website